|
It is currently Sun Dec 27, 2009 7:58 am
|
View unanswered posts | View active topics
| Welcome |
|
|
Welcome to LABORATS for TEKNIK ELEKTRO |
 |
|
 |
|
| Author |
Message |
|
dreaming_teacher
|
Post subject: Catatan Perjalanan Posted: Wed Sep 17, 2008 6:05 am |
| Site Admin |
 |
Joined: Tue Jan 01, 2008 7:20 am Posts: 195 Location: in everyone's heart
|
|
Beijing, September 17, 2008
Tegar dan Simetrik
Sahur kedua di negeri tirai bambu. Dengan menu yang sama, nasi yang berasnya kami bawa dari Indonesia, kering tempe dan telor asin (mirip anak kost).
Tepat pukul 22:55 kemarin kami mendarat di Beijing International Capital Airport, BCiA (dengan singkatan ini semua lambang pada banner dan queuing line jadi mirip Bank Central Asia, BCA di Indonesia, bentuk huruf dan kombinasi biru putihnya pun sama persis. Jangan2 BCA artinya Bank China Asia).
Di BCiA terdapat 3 terminal, sepertinya yang ketiga ini baru dibangun karena Olimpiade Beijing 2008 kemarin. Sama dengan Changi Airport yang sebelumnya kami singgahi. Di sana, terminal transit A19 adalah termasuk terminal yang sangat baru. Itu terlihat jelas dari garis2 kavling dengan paper tape yang masih baru di pasang, menandakan bahwa di lokasi tersebut baru direncanakan untuk dibangun outlet2. Masih banyak partisi kayu yang sepertinya akan dipasang di sana. Sama halnya dengan di Changi juga, dimana dari terminal F tempat kami datang menuju terminal A kami harus naik shuttle train yang tanpa pengemudi, demikian juga halnya di Beijing, Yang beda adalah atmospherenya. Jelas sekali terasa. Begitu turun di BCiA, terasa sekali ada yang sangat berbeda. Bangunan2 di dalam airport berkesan tegar, kotak2, walaupun kesan modern juga tampak. Tapi tegar dan jauh dari kesan melankolis adalah kesan pertama yang aku tangkap. Komunisme.
Mungkin saja, aku juga berpikir begitu, kesan itu muncul karena apa yang telah ada di pikiran kita sebelumnya. Tapi semua itu gugur begitu aku mulai beranjak keluar dari bandara. Dengan berbekal sebuah sisir yang ada tulisan china-nya dan di bawahnya tertulis Dong Fang Hotel kami dengan yakin menunjukkannya pada seorang sopir taxi... he....he... sambil menunjuk pada tulisan di sisir tersebut.
Si sopir taxi menyalakan lampu atap dan melihat dengan teliti tulisan tersebut, lalu dia berusaha berbicara kepada kami dengan bahasa china yang ”kurang jelas”. Kami hanya mengangguk2 ... yes...yes Dong Fang Hotel, take me there ... ha…ha… Tapi si sopir taxi tak segera berangkat dia masih saja berbicara sambil memicingkan matanya yang memang sudah sipit berusaha membaca tulisan itu. Alamak, jangan2 dia buta huruf china seperti kami juga. Aku berinisiatip untuk menunjuk pada tulisan bahasa inggris di bawahnya, sambil menunjuk … Dong … Fang … Ho….tel …oke…oke… haha… haha…. (welcome to the jungle).
Segala puji bagi Allah, Ia terpaksa campur tangan dengan mengirim petugas parkir bercelana pendek yang sepertinya cukup cerdas. Si sopir menunjukkan sisir itu dan si bocah parkir menjelaskan sambil berbicara dengan nada berkelakar. Si sopir kembali berbicara sendiri dan … halah…. halah … sambil mengangguk angguk … hah…. Nyambung juga akhirnya. Kami memasuki jalanan kota Beijing yang sepi, jauh sekali dari suasana Jakarta yang hiruk pikuk. Hanya sesekali kami melihat lampu2 mobil lain. Sepi.
Lampu2 jalan di sini terang sekali, jauh lebih terang dari Jakarta. Tapi tampak jauh dari kesan boros energi. PV module di mana-mana. Sepanjang jalan 99% bangunan berbentuk kotak. Sepertinya bangunan ini tersusun dari toy bricks. Kotak-kotak simetris yang tegar, lagi2 pikiranku terarah ke sana. Jendela2 bangunan2 tinggi itu seperti ber-frame tebal. Bayangkan kacamata seorang yang sangat serius dan jauh dari kesan humoris. Warna2nyapun tegar… ah… lagi2 tegar.
Tidur dulu, nanti jam 10 mau ke Great Wall … 06:56 local time
_________________ God will hold u'r dream
|
|
|
|
 |
|
kincai
|
Post subject: Re: Catatan Perjalanan Posted: Fri Sep 19, 2008 9:59 am |
| Celurut |
 |
Joined: Sat Jan 12, 2008 1:42 am Posts: 184 Location: sebuah negri di atas awan
|
|
bejing bejng nihau bejing (lagu yg dinyanyikan bintang2 asia waktu closing ceremony-nya olimpic)
hebat banget udah nyampe china, lagi kerja ato nuntut ilmu pak???
ok deh... kita tunggu cerita selanjutnya
|
|
|
|
 |
|
dreaming_teacher
|
Post subject: Re: Catatan Perjalanan Posted: Tue Sep 23, 2008 8:47 pm |
| Site Admin |
 |
Joined: Tue Jan 01, 2008 7:20 am Posts: 195 Location: in everyone's heart
|
|
Beijing, September 18, 2008
Keesokan harinya, pagi hari sekitar jam 10 waktu Beijing, telepon di kamar berdering. Dengan malas kukeluarkan tanganku dari baik selimut yang kugunakan untuk berlindung dari dinginnya udara kamar yang di set seperti ruang mesin. Lalu,”yes….oh ….yes….yes …hmm… tell him we need an hour to get prepared, okay… okay”. Lalu kami mulai saling menyuruh untuk mandi.
Singkatnya, kami sudah berada di taxi yang beraroma khas menuju Qin Huang Dao, district tempat workshop yang memproduksi mesin yang akan kami beli.
Sisa lelah akibat perjalanan panjang dari tanah air ke negeri ini kemarin belum hilang. Aku terkantuk2 karena monotonnya jalur tol yang kami tempuh. Tiba-tiba kami keluar dari toll dan berhenti di sebuah terminal. Si sopir turun dan mengisyaratkan pada kami untuk berganti mobil. Mobil yang kami tumpangi berikutnya sama dengan yang sebelumnya,VW sedan warna hitam. Lalu kami kembali masuk toll dan melaju dengan monoton. Tiba-tiba aku teringat sesuatu, “om, hp-mu mana?”. Temanku dengan serta-merta teringat kalau hp-nya tertinggal di mobil yang sebelumnya. Lalu aku mencolek si sopir dan ,” halo…halo… my cell phone … I left it in your car”.. kataku sambil menunjukkan hp-ku. Syukurlah dia mengerti dan segera menelpon. Lalu dia mengangguk-angguk dan,” halah…halah… “ dan menggambar di udara yang mengisyaratkan bahwa kami harus berbalik arah. Alhamdulillah.
Setelah menempuh perjalanan selama 3 jam kami sampai di area seperti kota kecamatan di Indonesia. Jauh dari kesan rapi. Banyak mannequin berjaket tebal dipajang di pinggir jalan sampai berdebu tebal. Kota ini sangat suram. Lalu kami masuk ke sebuah areal yang dipenuhi peralatan-peralatan tua di halamannya. Sepertinya ini sebuah pabrik tua. Di sana kami disambut oleh beberapa orang dengan bahasa yang tidak kami mengerti. Herannya temanku bisa menebak dengan tepat bahwa salah satu dari mereka adalah orang yang sering berkorespondensi dengannya, Wang Cheng Wei.
Setelah berbasa-basi dengan bahasa yang sama-sama tidak mengerti, tiba-tiba dari tangga lingkar turunlah seorang wanita muda jangkung dengan kacamata. Kemudian dia memperkenalkan diri sebagai penerjemah, namanya Jeni.
Mulailah kami membahas hal-hal yang sedikit teknis. Yang aku heran, even belum ada penerjemah tadi, para Chinese ini semangat banget menjelaskan tentang mesinnya pada kami. Padahal kami cuman angguk-angguk aja. Masa mau menggeleng, nanti ditanya kami ga bisa jawab.
Setelah capek berdiskusi di workshop, Jeni bilang kalau kami diundang makan. Aku spontan bilang bahwa aku lagi fasting. Setelah berhasil menghilangkan keheranan mereka akhirnya kami sepakat untuk berdiskusi di ruang makan. Kebetulan temanku tidak puasa hari ini karena dari sahur sudah empat kali ke wece. Herannya, mereka tak lelah2nya menawarkan makanan kepadaku, dan setiap aku tolak mereka selalu tertawa. Lucu. Salah satu engineer yang paling rajin memberikan penjelasan adalah Sun Li Ming yang gayanya mirip banget dengan temanku si Narko. Dia sama sekali tidak menggunakan bahasa Inggris. Tapi kelihatan sekali bahwa dia sangat menguasai mesin ini. Benar sekali, ternyata dia adalah pencipta mesin ini. Setelah sampai di hotel, kami tahu bahwa dia adalah MIT physic doctor. Tapi yang aku herankan, kenapa dia ga bisa bahasa inggris.
Dalam pertemuan di ruang makan, karena dia bolak-balik nawarin rokok ke aku, maka akhirnya aku berinisiatip untuk membalikkan keadaan, ciee… Aku menawarinya Jie Sam Soe sambil bilang, “ here .. it is the best cigarette in my country”. Mereka senang sekali dan langsung mencobanya. Tapi tak sampai selesai satu batang sudah dimatikan. Setelah makan baru disulut lagi sampai habis. Mereka juga membahas tentang rokok ini, tapi dengan bahasa yang tidak kami mengerti.
Karena tak mau ditawari makanan, akhirnya mereka menyuruhku membawa buah aneh yang kata mereka adalah buah khas China. Aku tidak keberatan, bahkan seandainya tak ditawaripun aku memang berniat memintanya. Mereka mengantar kami sampai di terminal bus dan membelikan kami buah tangan seadanya. Katanya untuk buka puasa. Mereka juga membelikanku rokok china. Mulai saat itu kami selalu berbuka dengan buah aneh itu, yang aku sebut buah persik.
Malam itu kami sampai kembali di hotel sekitar pukul 10 malam waktu Beijing. Setelah memasak sebentar, kami makan dan berdiskusi berdua sampai larut malam. Makan sahur kami lakukan agak awal karena takut telat dan kurang waktu buat ngerokok.
Perjalanan Umroh yang Salah Tempat
17 September 2008 adalah hari yang berkesan buatku. Semua kegiatan wajibku sudah selesai, kini tinggal acara jalan-jalannya.
Pagi itu, sekitar pukul 10 kami meninggalkan hotel untuk acara pelesir. Kami sudah melingkari semua tempat yang akan kami kunjungi di peta Beijing dengan bolpoint. Maksud kami adalah untuk memudahkan sopir taxi yang mengantar kami. Kami menyewa taxi sehari 1000 yuan atau sekitar satu seperempat juta rupiah. Aku sebenarnya tidak setuju, karena aku ingin berpelesir dengan biaya minimum. Tapi temanku yang tajir ini menakut-nakuti aku dengan memaksaku membayangkan betapa sulitnya mengkomunikasikan kemauanku dengan orang-orang di sini. Akhirnya aku menyerah.
Setelah menunjukkan tempat pertama untuk kami kunjungi, sopir taxi itu memberi isyarat bahwa dia mengerti maksud kami dan mulai melaju ke luar kota. Baru sekitar 20 menit kami sampai di sebuah tempat, tapi bukan yang kami maksud. Bukan Ming Tomb yang merupakan kuburan dinasti Ming. Tapi sopir taxi tadi mengisyaratkan kami untuk turun dan membeli tiket di loket yang ia tunjuk dengan tangannya.
Sebelum masuk aku membaca tulisan yang ada kata … wax work … dalam pikiranku ini adalah sebuah istana lilin. Dan benar, setelah masuk kami mengerti bahwa tempat ini adalah diorama yang menceritakan apa yang terjadi dengan kota ini tempo dulu. Yang bagus adalah semua lakon diilustrasikan dengan patung-patung lilin dengan ukuran riil dan baju-baju yang terbuat dari bahan yang sebenarnya. Artistik sekali. Dan yang agak menggelikan adalah adegan-adegan yang ada adult content nya digambarkan dengan cukup detail. Hmmm …
Sebelumnya kami sudah merencanakan jatah waktu untuk masing-masing tempat yang akan kami kunjungi, maka kami tidak mau berlama-lama di museum wax work ini. Kami segera melanjutkan perjalanan ke Ming Tomb dan hanya butuh waktu 20 menit lagi dari museum ini.
Sebelum masuk ke deretan makam-makam yang disebut dengan istana bawah tanah ini, kami menyempatkan diri untuk melihat-lihat foto-foto di museum kecil dan membeli video yang berisi penjelasan tentang tempat ini.
Kemudian kami melewati sederetan tatakan arca yang menurut ceritanya adalah patung-patung raja yang dibakar oleh istri Pemimpin Mao untuk menarik perhatian suaminya. Tapi akibat perbuatannya itu, Mao jadi punya alas an untuk menghukum mati istri yang menurut kisahnya adalah seseorang yang sangat ia cintai. Luar biasa pak Mao ini, apapun akan ia lakukan untuk menunjukkan bahwa ia mampu bersikap adil, sekalipun harus mengorbankan orang yang sangat ia cintai.
Di Ming Tomb aku banyak melihat uang-uang yang berserakan. Tapi tak ada orang yang mengambilnya. Iya kah? Seperti cerita orang di tanah haram, tak ada orang yang berani mengambil barang yang tercecer di sana, takut kuwalat. Tapi kalau di sini, kira-kira orang-orang ini bukan takut kuwalat, tapi takut ditembak.
Kami beristirahat sejenak di Ming Tomb untuk mengatur waktu, agar kami tidak terlalu kepanasan begitu mendaki Great Wall nanti. Sisa waktu ini aku gunakan untuk mencari giok yang dipesan istriku. Dapat juga, walaupun harus menguras sebagian besar uang sakuku.
Sekitar pukul 15 waktu setempat kami sampai di lokasi Great Wall. Sepanjang perjalanan ke sini aku banyak menggunakan digital camera ku dengan mode movie karena ingin menangkap kemegahan The Great Wall dari jarak jauh.
Pendakian kami lakukan bersama. Sebelum mendakipun kami sudah harus berjalan sekitar 500 meter untuk sampai di pintu yang merupakan tempat terendah di Tembok China ini. Itupun sudah cukup menguras sisa-sisa tenaga kami. (Kebodohan No.1)
Setelah sampai pada tahap kedua, dimana tahapan inilah yang juga telah dicapai oleh temanku ini ketika berkunjung ke sini pada musim dingin tahun lalu. Dia menyuruhku berjalan sendiri pada tahapan sisanya dan dia mau menungguku di tahap ke dua.
Sisa perjalanan aku tempuh dengan beban yang telah berkurang karena backpack ku aku tinggalkan pada temanku itu. Mendaki dan sesekali memotret. Itu saja yang aku lakukan.
Ketika aku telah mencapai satu tahap sebelum pos tertinggi, aku melihat ada kawat baja besar yang melintang dan setelah aku longokkan kepalaku melalui alur-gigi tembok besar ini, aku tahu bahwa ada cable car yang bisa digunakan untuk mencapai puncak tanpa harus bersusah payah mendakinya seperti yang aku lakukan. Bodoh, tapi ga papa, ini akan lain rasanya, hiburku pada diriku sendiri. (Kebodohan No.2)
Setelah sampai di puncak aku bertemu dengan dua orang yang mencapai puncak dengan kondisi yang tidak terlalu buruk seperti aku. Seorang bule dan seorang lagi etnis china. Setelah membantuku mengambil gambarku kami mengobrol sebentar dan dari sini aku tahu bahwa si bule adalaha muslim. Aku memberanikan diri bertanya karena dia mengatakan alhamdulillah sebelumnya. Dia jawab,”Yes, I’m a Moslem but I’m not fasting because I’d like to climb”. Uapik kon mister.
Ketika turun kembali ke tahapan ke dua, temanku mengajakku turun dengan sliding car, sialnya sudah terlalu sore sehingga semua petugasnya sudah turun dengan kereta itu sendiri. Terpaksalah kami turun dengan berjalan kaki seperti sewaktu kami naik.
Ketika berjalan kembali ke tempat parkir aku melihat ada Starbuck Café dan aku mengusulkan untuk menunggu dan berbuka minum kopi di café tersebut. Temanku ok dengan usulanku dan kami menunggu. Tapi… sekali lagi sial. Sepuluh menit sebelum waktu berbuka, lampu-lampu di Café itu dipadamkan, mean it’s been shut. Mesuhku cuma dalam hati,” telek, dienteni tutup”. (Kebodohan No.3)
Akhirnya kami kembali ke rencana semula untuk berbuka puasa di Niu Jie, kampong muslim di Beijing. Tapi tentunya belum sampai ke sana kami sudah harus membatalkan puasa hanya dengan sisa buah persik dan air mineral yang ada di backpack ku. Alhamdulillah, lagi.
Ritual umroh yang salah tempat kali ini kami tutup dengan makan malam di Moslem Restaurant di Niu Jie. Disana kami disapa dengan “Assalamu alaikum” oleh seorang gadis berpenampilan smart dengan business dress hitam dan rok agak pendek. Dia menyapa, “ Assalamu alaikum, do you speak English”. “Wa alaikum salam, yes we do”. “Okay, I speak a little English, please tell me anything you need”. Kami mulai memesan dan makan malam.
Yang aneh di sini adalah banyak sekali meja-meja yang lain yang memesan minuman botol seperti beer. Aku tak bisa menahan keherananku dan bertanya pada temanku. Dia menjelaskan bahwa beer di sini tidak diharamkan, yang tidak boleh adalah mabuk. Hmm .. good.
Malam itu kami sempatkan untuk berbelanja di Moslem Super Market di depan renstoran tadi dan kami kaget karena hampir semua bekal yang kami bawa dengan susah payah dari tanah air termasuk telor asin ternyata ada di sini. (Kebodohan No.4)
Setelah melengkapi kebodohan kami hari ini, kami kembali ke hotel dengan maksud beristirahat sebelum waktu sahur. Tapi kami tidak bisa tidur sampai waktu sahur tiba. Kami baru tertidur sekitar pukul 6.30 local time.
(Mudah-mudahan sempat nulis lanjutannya di Tanah Air)
_________________ God will hold u'r dream
|
|
|
|
 |
|
wonokairoen
|
Post subject: Re: Catatan Perjalanan Posted: Sat Sep 27, 2008 3:00 pm |
| Site Admin |
 |
Joined: Tue Jan 01, 2008 3:49 am Posts: 173 Location: In Your Illusion
|
|
pak.... gak ketemu dulurku di beijing......dah jarang ktemu soale...katanya skrg wess sukses trus ganti nama jadi jet lee
_________________ SEDANG OVER LOAD
|
|
|
|
 |
|
becak_gila
|
Post subject: Re: Catatan Perjalanan Posted: Sun Sep 28, 2008 11:18 pm |
Joined: Fri Jan 04, 2008 1:46 am Posts: 348
|
|
OuWh YanG aNAk DuLU TInGgAlnYA Di DuSUn KeLUnGKUnG iTu ToH TOXXXS???
_________________ JADilAh TerAnG & GarAm DuNiA
|
|
|
|
 |
|
wonokairoen
|
Post subject: Re: Catatan Perjalanan Posted: Thu Oct 02, 2008 10:29 am |
| Site Admin |
 |
Joined: Tue Jan 01, 2008 3:49 am Posts: 173 Location: In Your Illusion
|
|
yup......ngerti aeeee gussss......kuangen akuu
_________________ SEDANG OVER LOAD
|
|
|
|
 |
|
rho_el
|
Post subject: Re: Catatan Perjalanan Posted: Fri Oct 10, 2008 4:38 pm |
| Cindil |
 |
Joined: Tue Jan 08, 2008 9:12 pm Posts: 102
|
|
Lha bukane Fee Mao...
_________________ enjoy uR life \ U'll enjoyed by life
|
|
|
|
 |
|
|
 |
|
 |
|
You cannot post new topics in this forum You cannot reply to topics in this forum You cannot edit your posts in this forum You cannot delete your posts in this forum You cannot post attachments in this forum
|
|